
Tahun 2011 telah berlalu, banyak hal2 yang telah terjadi sepanjang tahun, dari hal membahagiakan sampai hal menyedihkan. Kalau mau flashback di awal tahun 2011 kemarin memang sudah diawali dengan hal yang kurang menyenangkan. berawal dari sms sahabat yang kemudian dibaca oleh pacar, dan membuat perayaan tahun baru 2011 kemarin jadi ternoda karena pertengkaran.
lalu banyak konflik2 yang terjadi mewarnai hubungan kita, benar kata orang tahun2 awal hubungan merupakan saat2 tersulit, karena di tahun itulah satu sama lain saling mencocokan kepribadiannya dengan kepribadian pasangannya. Walaupun kami sebenarnya merupakan teman dari SMA dan bisa dibilang teman yang cukup dekat. naik turunnya hubungan benar2 dirasakan saati itu, hingga saat dimana tujuan hubungan mulai dibicarakan. Memang aku dari awal ingin hubungan ini gak sekedar pacaran, aku tipe orang yang gak mudah jatuh cinta, dan sekalipun jatuh cinta ingin itu menjadi yang pertama dan terakhir bagiku, yap ia adalah pacar pertamaku. 23 tahun menjalani kehidupan sebagai manusia, baru kali itu benar2 bisa merasakan cinta dari orang lain, mungkin karena perasaan gak enak terhadap orang tua yang membuatku mengurungkan niat untuk pacaran, karena yang ada dibenakku ialah pacaran membutuhkan banyak pengorbanan, baik waktu, tenaga dan materi. Setelah sudah mampu untuk mencari penghasilan sendiri, baru baru terpikirkan bahwa ini saatnya untuk mencari seseorang yang bisa mengisi hidupku dengan kasih sayang dan cinta kasih. Seseorang yang nanti dipanggil IBU oleh anak2ku dan NENEK oleh Cucu2ku. Namun ku tahu hal ini tidak akan mudah, mengingat perbedaan keyakinan diantara kita. Berat menyadari bahwa kita mencintai orang yang kita cintai sepenuh hati dengan berbagai pertimbangan akan kehidupan kita kelak dan demi membahagiakan orang tua, dan ternyata itu tidak berbanding lurus.
Aku masih terlalu dangkal sehingga tidak memiliki keberanian untuk membicarakan masalah pernikahan dengan orang tuaku dan orang tuanya, yang akhirnya membuatnya ragu akan keseriusanku terhadapnya. kamipun putus di pertengahan tahun 2011. Tidak ada kata putus memang saat itu, aku bilang padanya kalo kita lebih baik jalan sendiri2 dulu dengan maksud meyakini akan cinta yang dirasakan, apakah kita berdua mampu untuk mempertahankannya bersama atau harus mengakhirinya. Kekuranganku dalam "Public Speaking" membuatnya salah menafsirkan kata2 yang selalu keluar dari mulutku, lalu aku mengambil tindakan untuk kembali mendapatkan cintanya, dan kamipun akhirnya kembali dekat namun tanpa status, sekali lagi ketidakmampuan untuk mengutarakan perasaan bahwa aku menginginkannya kembali menjadi pacarku, akhirnya membuat status kami hanya sekedar TTM saja baginya, walaupun aku menggangapnya sebagai pacar.
Seiring berjalannya waktu kita kembali dihadapkan dengan konflik2, disaat terjadi pertengkaran ia mengungkit bahwa kita sebenarnya tidak ada hubungan apa2 lagi, hal itu yang membuatku kembali merasa gak berguna. Perasaan tidak ingin kehilangannya lagi membuatku tidak tegas dan cenderung melakukan hal2 bodoh dimatanya guna menunjukan kesungguhan hati ini, namun sekali lagi itu berbeda dengan apa yang ada dipikirannya. Hingga saat terjadi pertengkaran besar, aku tidak menanggapinya dan mendiamkannya beberapa minggu untuk kita sama2 cool down, ternyata disaat itu ia memiliki "sandaran bahu" lain, untuk sharing dan curhat. Saat ia mencoba jujur akan perasaanya terhadap pria itu, dada ini berasa sesak, sakit dan panas, untuk pertama kalinya kurasakan perasaan ini. Aku berusaha untuk menerima kenyataan dan bersikap Dewasa, namun Realita berkata lain perasaan ingin melindunginya kembali muncul. Pria yang ia cintai sudah memiliki pasangan, hal itulah yang membuatku tergerak untuk mencoba mengeluarkannya dari situasi yang nantinya akan menyakitinya, namun ia dengan kesadaran sendiri siap menerima resiko akan apa yang ia lakukan. Aku sudah tidak bisa berbuat banyak lagi saat itu, disaat ia curhat tentang apa yang ia rasakan dan alami di Internet betapa sakitnya ia dengan keadaan tersebut, aku mencoba membantu dengan cara bodohku, dengan terus menghubunginya, menanyakan kabarnya dan sebagainya yang akhirnya hanya membuatnya marah.
Memang dari awal itulah tujuanku membuatnya marah dengan semua sikapku, memaki, menghina dan merendahkanku kuterima hal itu tanpa penyelasan, yang ada dipikiranku ialah bagaimana caraku untuk mengalihkan perhatiannya kepada pria itu, karena dengan marah berarti ia sedang tidak memikirkan pria itu, walaupun akhirnya dia kembali lagi galau dengan hatinya, namun kembali lagi aku mencoba membuatnya marah, membiarkanku menjadi "sesuatu" hal bodoh yang membuatnya emosi, marah dan kesal agar tidak kembali menjadi galau karena pria itu. Akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa ia harus bisa merelakan pria itu dengan wanitanya, begitupun tugasku selesai, sesekali aku datang kerumahnya untuk merayakan natal bersama keluarganya, Karena kedekatanku dengan keluarganya yang membuatku tidak ingin jauh darinya, aku merasakan kehangatan dari kelurga tersebut sama seperti keluargaku sendiri, namun.......... aku harus membiarkannya untuk sendiri, untuk kebaikannya juga sekalipun itu harus membuatku menjadi "Orang Asing baginya", namun aku akan selalu berdoa untuknya dan selalu ada saat ia membutuhkan bantuanku sesuai dengan janjiku untuk menjaganya, Biarlah waktu yang memberi jawaban, akan seperti apa kita nanti.
Dengan kejadian ini aku semakin yakin bahwa TUHAN sayang dengan umatnya dan akan memberi jalan keluar dari segala masalah yang dihadapi oleh anak2nya. Dengan tetap membusungkan dada dan terus maju kedepan, suatu saat nanti kita akan menikmati hasil dari segala perjuangan dan rasa sakit yang kita alami sebelumnya yaitu kebahagiaan yang sejati milik TUHAN untuk kita manusia. Happy New Year 2012......






0 comments:
Post a Comment